2.Peran Hutan Dalam Pengendalian Daur Air

Deskripsi Singkat

Kajian tentang peran hutan dalam pengendalian daur air dan longsor lahan sangat diperlukan sebagai suatu proses dalam pengenalan dan pemahaman fungsi hutan yang sangat beragam. Diharapkan mahasiswa semakin memahami bahwa peran dan fungsi hutan tidak hanya sebagai penghasil hasil hutan yaitu kayu saja akan tetapi ada fungsi-fungsi lain dari hutan yang dapat memberikan manfaat lebih besar bagi lingkungan dan manusia itu sendiri.

Peran hutan yang penting dan menjadi materi utama dalam bagian ini adalah sebagai penyedia jasa lingkungan melalui perannya dalam mengendalikan daur air kawasan dan perannya dalam mengendalikan longsor lahan.

Relevansi

Bagian ini merupakan dasar dan landasan bagi pemahaman peran hutan dalam penyedia jasa lingkungannya. Mahasiswa dapat mengetahui ruang lingkup peran dan fungsi hutan, sehingga meningkatkan kejelian mahasiswa dalam melihat permasalahan dan fenomena yang terjadi di lapangan. Selain itu mahasiswa juga akan menyadari bahwa peran dan fungsi hutan sangat penting untuk mendukung keseimbangan ekosistem dan lingkungan serta memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia melalui berbagai jasa lingkungannya.

Tujuan Instruksional Khusus

Setelah mengikuti kuliah pada bab ini mahasiswa diharapkan mengerti dan memahami peran dan fungsi hutan dalam pengendalian daur air kawasan dan pengendalian longsor lahan. Harapannya mahasiswa lebih cermat dan tanggap dalam melihat fenomena yang terjadi sehingga mampu memberikan kontribusi nyata sesuai kapasitasnya sebagai mahasiswa.

Peran Hutan

Sangat banyak harapan yang ditopangkan kepada hutan di dalam rangka pengendalian daur air suatu kawasan. Hal ini disebabkan karena secara keseluruhan peran hutan dengan vegetasinya banyak yang bisa diharapkan, walaupun peran tersebut sangat dibatasi oleh beberapa faktor antara lain :

  1. Sifat pertumbuhannya yang dinamik yang tergantung kepada waktu dan musim.
  2. Nilai perannya juga ditentukan oleh struktur hutannya, luasnya, komposisi jenisnya, keadaan pertumbuhannya serta letaknya.
  3. Nilai perannya untuk suatu keadaan ekosistem hutan tertentu juga dibatasi oleh iklim, keadaan geologi, geomorfologi dan watak tanahnya.

Secara lebih rinci peran hutan dapat diterangkan sebagai berikut (Pusposutardjo, 1984) :

  1. Sebagai pengurang atau pembuang cadangan air di bumi melalui proses :
    1. Evapotranspirasi
    2. Pemakaian air konsumtif untuk pembentukan jaringan tubuh vegetasi.
  2. Sebagai penghalang untuk sampainya air di bumi melalui proses intersepsi.
  3. Sebagai pengurang atau peredam energi kinetik aliran air lewat :
    1. Tahanan permukaan dari bagian batang di permukaan
    2. Tahanan aliran air permukaan karena adanya seresah di permukaan.
  4. Sebagai pendorong ke arah perbaikan kemampuan watak fisik tanah untuk memasukkan air lewat sistem perakaran, penambahan dinamika bahan organik ataupun adanya kenaikan kegiatan biologik di dalam tanah.

Peranan kawasan hutan sebagai pengendali daur air dapat dilihat dari dua sudut pandangan yaitu menyediakan air dengan konsep panen air (water harvesting) dan dengan konsep menjamin penghasilan air (water yield). Jumlah air yang dapat dipanen tergantung pada jumlah aliran permukaan (run off) yang dapat digunakan, sedang jumlah air yang dapat dihasilkan bergantung pada debit air tanah. Kedua tujuan tersebut memerlukan perlakuan yang berbeda.

Untuk meningkatkan panenan air, infiltrasi dan perkolasi harus dikendalikan, sedang untuk meningkatkan penghasilan air, infiltrasi dan perkolasi justru yang harus ditingkatkan. Konsep penghasil air menjadi azas pengembangan sumber air di kawasan beriklim basah, karena konsep panen air akan membawa resiko besar, berupa peningkatan erosi dan juga akan banyak memboroskan lahan untuk menampungnya.
pohon.swf
Faktor Penyebab Longsor Lahan

Beberapa faktor yang menyebabkan suatu kawasan menjadi rawan longsor antara lain :

  1. Faktor internal
    1. Genesis morfologi lereng (perubahan kemiringan dari landai ke curam)
    2. Geologi (jenis batuan, sifat batuan, stratigrafi dan tingkat pelapukan)
      • Jenis batuan/tanah
        • – Tanah tebal dengan tingkat pelapukan sudah lanjut
    3. Kembang kerut tanah tinggi : lempung
      • Sedimen berlapis (tanah permeabel menumpang pada tanah impermeabel)
      • Perlapisan tanah/batuan searah dengan kemiringan lereng.
    4. Tektonik dan Kegempaan
      • Sering mengalami gangguan gempa
      • Mekanisme tektonik penurunan lahan
  2. Faktor luar (eksternal)
    1. Morfologi atau Bentuk Geometri Lereng
      • Erosi lateral dan erosi mundur (backward erosion) yang intensif menyebabkan terjadinya penggerusan di bagian kaki lereng, akibatnya lereng makin curam. Makin curam suatu kemiringan lereng, makin kecil nilai kestabilannya.
      • Patahan yang mengarah keluar lereng
    2. Hujan
      • Akibat hujan terjadi peningkatan kadar air tanah, akibatnya menurunkan ketahanan batuan.
      • Kadar air tanah yang tinggi juga menambah beban mekanik tanah.
      • Sesuai dengan letak dan bentuk bidang gelincir, hujan yang tinggi menyebabkan terbentuknya bahan gelincir.
    3. Kegiatan Manusia
      • Mengganggu kestabilan lereng misal dengan memotong lereng.
      • Melakukan pembangunan tidak mengindahkan tata ruang wilayah/tata ruang desa.
      • Mengganggu vegetasi penutup lahan sehingga aliran permukaan melimpah misal dengan over cutting, penjarahan atau penebangan tak terkendali, hal ini akan menyebabkan erosi mundur maupun erosi lateral.
      • Menambah beban mekanik dari luar misal penghijauan atau hasil reboisasi yang sudah terlalu rapat dan pohonnya sudah besar-besar di kawasan rawan longsor lahan dan tidak dipanen.


Gambar Longsor di Banjarnegara
Karakteristik kawasan rawan longsor antara lain :

    1. Kawasan yang mempunyai kelerengan ≥20 %
    2. Tanah pelapukan tebal
    3. Sedimen berlapis : Lapisan permeabel menumpang pada lapisan impermeabel
    4. Tingkat kebasahan tinggi (curah hujan tinggi)
    5. Erosi lateral intensif sehingga menyebabkan terjadinya penggerusan di bagian kaki lereng, akibatnya lereng makin curam.
    6. Mekanisme tektonik penurunan lahan
    7. Patahan yang mengarah keluar lereng
    8. Dip Perlapisan sama dengan Dip Lereng
    9. Makin curam lereng, makin ringan nilai kestabilannya.

Pengendalian Longsor Lahan

Pencegahan atau mengurangi longsor lahan dengan usaha-usaha antara lain :

  1. Menghindari atau mengurangi penebangan pohon yang tidak terkendali dan tidak terencana (over cutting, penebangan cuci mangkuk, dan penjarahan).
  2. Penanaman vegetasi tanaman keras yang ringan dengan perakaran intensif dan dalam bagi kawasan yang curam dan menumpang di atas lapisan impermeabel.
  3. Mengembangkan usaha tani ramah longsor lahan seperti penanaman hijauan makanan ternak (HMT) melalui sistem panen pangkas.
  4. . Mengurangi beban mekanik pohon-pohon yang besar-besar yang berakar dangkal dari kawasan yang curam dan menumpang di atas lapisan impermeabel.
    Penjarangan untuk Mengurangi Beban Tanah
  5. Membuat Saluran Pembuangan Air (SPA) pada daerah yang berhujan tinggi dan merubahnya menjadi Saluran Penampungan Air dan Tanah (SPAT) pada hujan yang rendah.
  6. Mengurangi atau menghindari pembangunan teras bangku di kawasan yang rawan longsor lahan yang tanpa dilengkapi dengan SPA dan saluran drainase di bawah permukaan tanah untuk mengurangi kandungan air dalam tanah.
  7. Mengurangi intensifikasi pengolahan tanah daerah yang rawan longsor.
  8. Membuat saluran drainase di bawah permukaan (mengurangi kandungan air dalam tanah).
  9. Bila perlu, bisa dilengkapi bangunan teknik sipil/bangunan mekanik.

Contoh jenis tanaman yang mempunyai akar tunggang dalam dan akar cabang banyak yang berakar tunggang dalam dengan
sedikit akar cabang sebagai berikut :

  1. Pohon-pohon yang mempunyai akar tunggang dalam dan akar cabang banyak.
    1. Aleurites moluccana (kemiri)
    2. Vitex pubescens (laban)
    3. Homalium tomentosum (dlingsem)
    4. Lagerstroemia speciosa (bungur)
    5. Melia azedarach (mindi)
    6. Cassia siamea (johar)
    7. Acacia villosa
    8. Eucalyptus alba
    9. Leucaena glauca
  2. Pohon-pohon yang mempunyai akar tunggang dalam dengan sedikit akar cabang
    1. Swietenia macrophylla (mahoni daun besar)
    2. Gluta renghas (renghas)
    3. Tectona grandis (jati)
    4. Schleichera oleosa (kesambi)
    5. Pterocarpus indicus (sono kembang)
    6. Dalbergia sissoides (sono keling)
    7. Dalbergia latifolia
    8. Cassia fistula (trengguli)
    9. Bauhinia hirsula (tayuman)
    10. Tamarindus indicus (asam jawa)
    11. Acacia leucophloea (pilang)

9 Comments

  1. Rahma Susanti

    Mas Hatma, duh bagus banget materinya, bisa nggak aku dikirimi materi 1 s/d 12. ditunggu konfirmasinya ya. Kalau di yogjakarta hari apa saja, wass

  2. naya

    Dari jenis-jenis tumbuhan jati, mindi, sonokeling, mahoni daun besar, mana yang lebih bagus untuk kawasan sempadan sungai??

  3. informasi yang sangat bagus sekali dan menambah wawasan bagi saya khususnya. trimakasaih sebelumnya…
    pak hatma,boleh saya minta copy-an animasi flashnya tentang hujan di bab Konsep Dasar Hidrologi Hutan? tolong kasi pak, buat bahan presentasi saya. thx.

  4. Rimbawan

    Terimakasih atas info yang disediakan.
    pak, saya mau bertanya,
    Apa Peranan Hutan dalam Pembangunan Nasional Indonesia dimasa yang akan datang??
    Tolong dibahas ya pak,,,
    Terimakasih!

    Salam Rimbawan!!

  5. tambahan:
    masih ada selain tanaman kelompok pohon, dapat menggunakan tnm klmp penutup tanah seperti centrocema mengikat tanah permukaan dgn rapat, dan rumput vertiver khusus daerah terjal dgn kemiringan lebih dari 20% mempunyai akar yg menghujam 1m kedalam tanah.
    masih ada jenis lain aq hrs buka buku dulu.Tq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *