7.Hidrometri

Deskripsi Singkat

Evaporasi merupakan proses fisis perubahan cairan menjadi uap, hal ini terjadi apabila air cair berhubungan dengan atmosfer yang tidak jenuh, baik secara internal pada daun (transpirasi) maupun secara eksternal pada permukaan-permukaan yang basah. Suatu tajuk hutan yang lebat menaungi permukaan di bawahnya dari pengaruh radiasi matahari dan angin yang secara drastis akan mengurangi evaporasi pada tingkat yang lebih rendah. Transpirasi pada dasarnya merupakan salah satu proses evaporasi yang dikendalikan oleh proses fotosintesis pada permukaan daun (tajuk). Perkiraan evapotranspirasi adalah sangat penting dalam kajian-kajian hidrometeorologi.

Relevansi

Dengan mempelajari proses terjadinya, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap evapotranspirasi, mahasiswa dapat melakukan analisis neraca air suatu kawasan hutan melalui pendekatan dari model-model penghitungan evapotranspirasi yang ada. Dengan menguasai metode ini diharapkan mahasiswa mampu melakukan pengelolaan hutan dengan mendasarkan pada hasil neraca airnya.

Tujuan Instruksional Khusus

Setelah mempelajari bagian ini, mahasiswa dapat melakukan pengukuran dan analisis evapotranspirasi melalui pendekatan model-model neraca air. Harapannya mahasiswa mampu melakukan monitoring dan evaluasi suatu kawasan hutan melalui pendekatan neraca air kawasannya.

Pengertian dan Faktor Evapotranspirasi

Peristiwa berubahnya air menjadi uap dan bergerak dari permukaan tanah dan permukaan air ke udara disebut evaporasi (penguapan). Peristiwa pengauapan dari tanaman disebut transpirasi. Kedua-duanya bersama-sama disebut evapotranspirasi.
Faktor-faktor utama yang berpengaruh adalah (Ward dalam Seyhan, 1977) :

  1. Faktor-faktor meteorologi
    1. Radiasi Matahari
    2. Suhu udara dan permukaan
    3. Kelembaban
    4. Angin
    5. Tekanan Barometer
  2. Faktor-faktor Geografi
    1. Kualitas air (warna, salinitas dan lain-lain)
    2. Jeluk tubuh air
    3. Ukuran dan bentuk permukaan air
  3. Faktor-faktor lainnya
    1. Kandungan lengas tanah
    2. Karakteristik kapiler tanah
    3. Jeluk muka air tanah
    4. Warna tanah
    5. Tipe, kerapatan dan tingginya vegetasi
    6. Ketersediaan air (hujan, irigasi dan lain-lain)

Model-model Analisis Evapotranspirasi
Perkiraan evapotranspirasi adalah sangat penting dalam kajian-kajian hidrometeoro-logi. Pengukuran langsung evaporasi maupun evapotranspirasi dari air maupun permukaan lahan yang luas akan mengalami banyak kendala. Untuk itu maka dikembangkan beberapa metode pendekatan dengan menggunakan input data-data yang diperkirakan berpengaruh terhadap besarnya evapotranspirasi. Apabila jumlah air yang tersedia tidak menjadi faktor pembatas, maka evapotranspirasi yang terjadi akan mencapai kondisi yang maksimal dan kondisi itu dikatakan sebagai evapotranspirasi potensial tercapai atau dengan kata lain evapotranspirasi potensial akan berlangsung bila pasokan air tidak terbatas bagi stomata maupun permukaan tanah.

Pada daerah-daerah yang kering besarnya evapotranspirasi sangat tergantung pada besarnya hujan yang terjadi dan evapotranspirasi yang terjadi pada saat itu disebut evapotranspirasi aktual.

Analisis Evapotranspirasi Metode Meyer

E = 0,35 (ea – ed) (1 + V/100) mm/hari

Ed = ea * RH

ea ===>lihat tabel berdasar t bola kering

RH ===>lihat tabel berdasar t bola basah & Δ t
V = kecepatan angin (mile/hari)

Evapotranspirasi merupakan faktor dasar untuk menentukan kebutuhan air dalam rencana irigasi dan merupakan proses yang penting dalam siklus hidrologi.

Analisis Evapotranspirasi Potensial Metode Thornwaite

Data yang diperlukan dalam metode ini adalah suhu rata-rata bulanan yang didapat dari suhu rata-rata harian. Data tersebut dianalisis dengan rumus-rumus :
1.jpg

Analisis Neraca Air Metode Thornwaite Mather

Perhitungan neraca air menurut fungsi meteorologis sangat berguna untuk evaluasi ketersediaan air di suatu wilayah terutama untuk mengetahui kapan ada surplus dan defisit air. Neraca air ini umumnya dihitung dengan metoda Thornthwaite Mather.

Data yang diperlukan berupa :

1. Curah hujan bulanan

2. Suhu udara bulanan

3. Penggunaan lahan

4. Jenis tanah atau tekstur tanah

5. Letak garis lintang

Langkah-langkah perhitungan :

  1. Hitung suhu udara bulanan rata-rata
    Data suhu udara pada umumnya sulit diperoleh, oleh karena itu suhu udara dapat diperkirakan dengan data suhu yang ada di suatu tempat :Δ t = 0,006 x Δ ht1 = t
    2 ± ΔtΔ h = beda tinggi tempat lokasi 1 dengan lokasi 2 (dalam meter)Δ t = beda suhu udara (Δ C);t2 = suhu udara di lokasi 2.
  2. Hitung Evapotranspirasi dengan metode Thornthwaite Mather (Ep)
  3. Hitung selisih hujan (P) dengan evapotranspirasi
  4. Hitung “accumulated potential water losses” (APWL)
  5. Hitung “Water Holding Capacity” (Sto) berdasar Tabel (Lampiran 4)
  6. Hitung soil moisture storage (St.)
    2.jpg
    Sto dihitung atas dasar data tekstur tanah, kedalaman akar
  7. Hitung delta St tiap bulannyaΔ st = Sti bulan ke i dikurangi St bulan ke (i – 1)
  8. Hitung evapotranspirasi aktual (Ea)
    untuk bulan basah ( P > Ep), maka Ea = Ep
    untuk bulan kering ( P < Ep), maka Ea = P + |- Δ St|
  9. Hitung surplus air (S); Bila P > Ep, maka S = ( P – EP) – Δ St.
  10. Hitung defisit (D), D = Ep – Ea.

Analisis Evapotranspirasi Metode Turc Langbein

Rumus umum yang digunakan yaitu konsep neraca air secara meteorologis pada suatu DAS (Seyhan, 1977) :

P = R + Ea ± Δ St

Dalam hal ini :

P = curah hujan

R = limpasan permukaan

Ea = evapotranspirasi aktual

Δ St = perubahan simpanan

Apabila neraca air tersebut diterapkan untuk periode rata-rata tahunan, maka Δ St dapat dianggap nol, sehingga surplus air yang tersedia adalah :

R = P – Ea

Dan jumlah air yang tersedia diperkirakan sebesar 25% hingga 35% dari surplus air.
Menurut Keijne (1973), evapotranspirasi aktual tahunan dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus Turc-Langbein :
3.jpg
Dalam hal ini :

E = evapotranspirasi aktual (mm/tahun)

Eo = evaporasi air permukaan (mm/tahun)

P = curah hujan rata-rata (mm/tahun)

T = suhu udara rata-rata (oC)

Nilai suhu udara dapat diketahui berdasarkan data suhu udara rata-rata tahunan dari stasiun yang diketahui dengan persamaan :

T1 = T2 ± (Z1 – Z2) 0,006

Dalam hal ini :

T1 = suhu udara yang dihitung pada stasiun 1

T2 = suhu udara yang diketahui dari stasiun 2

Z1 = elevasi stasiun 1

Z2 = elevasi stasiun 2

15 Comments

  1. Indra Lasmana

    Saya sangat tertarik dengan tulisan bapak mengenai hidrometri (evapotranspirasi dan neraca air), terutama perhitungan neraca air metode thornthwaite,karena literatur yang membahas metode tersebut sangat kurang. Dari beberapa referensi terbatas yang saya baca Metode thornthwaite kurang tepat digunakan untuk daerah tropis,tapi dari referensi lain yang saya baca bahwa metode tersebut sudah banyak digunakan terutama di Amerika Serikat dan apabila dikaitkan neraca air dengan indeks kekeringan, metode ini memberikan gambaran yang tepat. Yang jadi pertanyaan saya apakah metode Neraca Air Thornthwaite cocok digunakan untuk daerah tropis, terutama di daerah semi kering seperti wilayah Nusa Tenggara Timur.
    Apabila bapak tidak berkeberatan kami mohon bantuan referensi tentang perhitungan Neraca Air dengan Metode Thornthwaite. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

  2. sangat tertarik dengan tulisan ini, karena kemudahan bahas yang digunakan membuat saya selaku pembaca menjadi lebih mudah untuk dapat memahami tentang persamaan-persamaan tentang evapotranspirasi.
    semoga bisa menjadi referensi bagi pembaca lain yang sedang kesulitan dalam memahami konsep evapotranspirasi.
    makasih banyak

  3. didi

    Enaknya manggil apa ya, mas aja lah biar lebih akrab gt. Mas, bisa ditulis ga cara menentukan Base Flow pada Kurva Debit secara langsung di komputer, jd ga usah di transform ke kertas semi log? trims

  4. Unggul

    Pak, saya mau tanya untuk perhitungan evapotranspirasi Thornthwaite kan disitu ada faktor f untuk perhitungannya. f itu apa ya?
    Terima kasih

  5. andri

    Aslmkm. pak hatma sy sgt terbantu dengan daftar litratur dan artikel yg anda buat. pak klo tdk kberatan bolehkah sy dikirimkan mengenai
    konsep banjir, tipe DAS dan pengaruhnya terhadap banjir baik intensitas dan durasinya? terima kasih. balas ya pa

  6. andri

    Aslmkm. pak hatma sy sgt terbantu dengan daftar litratur dan artikel yg anda buat. pak klo tdk kberatan bolehkah sy dikirimkan lewat email andrinoorardiansyah@yahoo.com mengenai
    konsep banjir, tipe DAS dan pengaruhnya terhadap banjir baik intensitas dan durasinya? terima kasih. balas ya pa

  7. ana

    maaf,bgmn cr penentuan indeks kekeringan dengan metode thornthwaite?bmn prosedur kerjanya maksud sy?tolong dibalas karena saya kurang referensi.

  8. Pak saya anak D3 siak…
    dari artikel Bapak di atas, saya melihat bahwa hal yang dibahas itu sepertinya metode ini bisa digunakan di daerah mana saja.
    hampir sama dengan komentar sebelumnya, pertanyaan saya adalah “apakah bisa metode THORNTHWAITE MATHER digunakan di siak???”
    selanjutnya, apakah metode ini benar-benar efektif digunakan di daerah lahan gambut seperti di siak ?
    seandainya ada yang lain, saya minta bantuannya Pak untuk dituliskan di artikel ini agar kami bisa mengunduhnya.
    Mungkin saja bisa bermanfaat jika kami kembali ke siak…
    terimakasih atas bantuan Bapak

  9. rina.yowei

    tolong, bapak jelaskan angka 325, 21 dan 0,9 yang di gunakan dalam perhitungan formula analisis evapotranspirasi menurut Turc Langbein ???
    makasi

  10. saya sangat merespon tulisan bapak, klw boleh bapak menulis lg alur pengolahannya supaya generasi seperti kami ini semakin mendapat pencerdasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *