Kategori:
Publikasi | 13 February 2009 | 10:08 am |
Berita tentang kejadian banjir dan tanah longsor di beberapa daerah di negeri kita tercinta telah banyak mengisi media masa secara terus-menerus pada musim-musim hujan. Kejadian demi kejadian terus susul menyusul dimulai dari Cilacap, Purworejo, Kulonprogo, Aceh, Sumatra Barat, Jawa Timur, Menado, dan terakhir di ujung tahun 2008 terjadi di Cianjur dan Bali makin memprihatinkan dengan jumlah korban yang tidak sedikit.
Indonesia sebagai suatu negara beriklim tropik, di beberapa tempat mempunyai kecenderungan mempunyai intensitas hujan yang tinggi, di beberapa tempat memiliki bentuk lahan yang bergelombang, berbukit maupun bergunung, dengan kondisi yang rawan longsor lahan. Masih banyak sekelompok masyarakat yang belum menyadari benar peran pelestarian dan pemeliharaan lingkungan untuk mendukung kehidupannya sehingga sering terjadi manusia melakukan tindakan yang sewenang-wenang terhadap lingkungan misal dengan membabat hutan untuk memenuhi kepentingan sesaat dan untuk kalangan terbatas. Disamping itu persebaran penduduk sering tidak memperhatikan tata ruang wilayah atau tata ruang desa, sehingga sangat perlu dilakukan usaha-usaha agar masyarakat terhindar dari malapetaka pada kesempatan lain. Banyak faktor yang harus diperhatikan dalam rangka mencegah atau mengurangi atau bahkan bersahabat (memiliki tingkat adaptasi tinggi) dengan longsor lahan dalam lingkungan ekologi yang ramah dan menyejukkan.
Pemilihan jenis tanaman untuk pencegahan longsor menjadi salah satu kunci penting dalam keberhasilan pencegahan kejadian longsor lahan menggunakan teknik vegetatif. Longsor lahan yang salah satu unsur utamanya disebabkan oleh labilnya lapisan tanah harus dapat diantisipasi dengan pemilihan jenis tanaman yang memiliki perakaran yang mampu menahan kestabilan lapisan tanah yaitu jenis yang memiliki perakaran dalam. Kondisi perakaran memiliki peran dalam menahan lapisan tanah, oleh karena itu semakin banyak akar cabangnya, maka semakin kuat tanaman tersebut menahan (mencengkeram) tanah sehingga kestabilan tanah akan meningkat.
Komponen lain pada tanaman yang juga memiliki peran dalam pencegahan longsor adalah kerapatan tajuk pohon. Semakin tinggi / berat kerapatan tajuk, hal ini berarti kemampuan tajuk untuk menangkap air hujan dalam bentuk air intersepsi juga semakin besar. Dalam pencegahan longsor, intersepsi yang besar akan mampu mengurangi besarnya hujan yang sampai pada permukaan tanah dan mampu menunda waktu (time lag) yang dibutuhkan hujan untuk sampai ke permukaan tanah.
Selengkapnya, silahkan download (.pdf)
Abstrak
Kabupaten Gunung Kidul yang sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan karst sebenarnya memiliki potensi yang besar terhadap semua sumberdaya yang ada di dalamnya. Potensi sumberdaya alam kawasan karst sebenarnya tidak hanya pada sumberdaya mineral/tambang saja, akan tetapi masih sumberdaya lain yang sangat potensial untuk dikembangkan, yaitu sumberdaya air, sumberdaya lahan, sumberdaya hayati, dan potensi landscape baik dibawah permukaan sebagai goa dan sungai/danau bawah tanah, serta permukaan berupa lembah kering dolin, bukit-bukit karst, dan pantai berdinding terjal. [Selengkapnya…]
Kategori:
Artikel | 07 December 2006 | 10:48 am |
Abstrak
Ancaman kerusakan hutan akibat perambahan dan penebangan liar jelas akan menimbulkan dampak negatif yang luar biasa besarnya karena adanya efek domino dari hilangnya hutan, terutama pada kawasan-kawasan yang mempunyai nilai fungsi ekologis dan biodiversitas besar. Akibat dari kejadian ini tidak saja hilangnya suatu kawasan hutan yang tadinya dapat mendukung kehidupan manusia dalam berbagai aspek misal kebutuhan akan air, oksigen, kenyamanan (iklim mikro), keindahan (wisata), penghasilan (hasil hutan non kayu dan kayu), penyerapan carbon (carbon sink), pangan dan obat-obatan akan tetapi juga hilanglah biodiversity titipan generasi mendatang.
[Selengkapnya…]
Kategori:
Artikel | 07 December 2006 | 10:39 am |
Abstrak
Saat ini pertumbuhan penduduk sangat cepat dan diikuti dengan meningkatnya kebutuhan akan ketersediaan sumberdaya alam. Salah satu dampak adalah peningkatan kebutuhan akan sumberdaya lahan sebagai lahan produksi pangan dan pemukiman maupun meningkatnya kebutuhan akan sumberdaya air yang sangat penting bagi kehidupan. Akibat banyaknya lahan yang beralih fungsi yang tadinya merupakan kawasan resapan menjadi kawasan pertanian dan pemukiman akan menyebabkan terganggunya daur air kawasan. [Selengkapnya…]
Kategori:
Artikel | 07 December 2006 | 10:32 am |
Latar Belakang
Lahan merupakan bagian dari bentang lahan (Lanscape) yang meliputi lingkungan fisik termasuk iklim, topografi / relief, hidrologi tanah dan keadaan vegetasi alami yang semuanya secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan. Penggunaan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Solo seperti pada umumnya di DAS yang lain secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi: hutan, tegalan, perkebunan, sawah, pemukiman dan penggunaan lain.
[Selengkapnya…]
Kategori:
Artikel | 07 December 2006 | 10:30 am |
Abstrak
Kekurangan akan pasokan air, terutama pada lingkungan masyarakat perkotaan yang mengalami perubahan perilaku yang sangat besar dalam memanfaatkan sumberdaya air. Air tidak hanya dipandang sebagai barang untuk memenuhi kebutuhan primer saja, akan tetapi saat ini air sudah menjadi barang kebutuhan sekunder, bahkan tersier (kemewahan). Belum lagi dengan perubahan pemanfaatan lahan terutama di kawasan recharge area, perkembangan industri yang membutuhkan air secara boros, hilangnya kawasan resapan di perkotaan dan dampak pembangunan lain yang merugikan dan mengancam keberadaan dan kelestarian sumberdaya air. Hal ini jelas akan menimbulkan tuntutan makin besar akan ketersediaan sumberdaya air setiap saat dan ujung-ujungnya adalah krisis air.
[Selengkapnya…]